PANDUAN HIDUP BAGI PENDATANG DI PAPUA

Kalau anda diberikan tugas untuk mengunjungi daerah Papua, atau ditugaskan bekerja di Papua untuk waktu yang panjang, jangan langsung panik atau ketakutan, tak kenal maka tak sayang.
Tulisan singkat ini saya peruntukkan untuk teman-teman yang mempunyai rencana untuk bepergian ke Tanah tombak Papua khususnya yang akan tinggal sementara atau menetap lama di Papua.
Pertama, Berpikiran positiflah tentang papua. Hilangkan semua ketakutan anda tentang kerasnya hidup di Papua. Karena saat ini, Papua telah menjadi daerah yang jauh lebih maju dan bahkan perkembangannya melebihi beberapa daerah maju di indonesia.
Kedua, Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang tempat anda akan tinggal di papua, bisa dengan bertanya kepada teman atau bertanya pada om google alias internet, ada juga peta yang bisa anda lihat diinternet.
Ketiga, jangan Panik dengan info bahwa harga barang di Papua sangat mahal. Memang harganya lebih tinggi tapi tidak sampai selangit. Anda bisa berhemat selama di Papua dengan memilih tempat-tempat makan yang murah. Harga kebutuhan sehari-hari tidaklah jauh berbeda dengan daerah di Makassar atau Maluku, jangan membandingkannya dengan harga di Jawa karena letaknya juga jauh.
Sebagai info harga indomie goreng biasa : Rp. 1.700, harga rokok Gudang Garam Surya : Rp. 12.000/bks atau Rp. 106.000/pak , telur : Rp. 1.500/bj, ayam lalapan berkisar antara Rp. 17.000 – 20.000/porsi.
Keempat; tidak usah memboyong begitu banyak barang dari daerah asal ke papua, seperti beras, air minum, sabun, shampoo, indomie, dll, karena akan jauh lebih baik belanja disini daripada harus membayar ongkos pengiriman yang mahal apalagi jika over bagage di bandara, sehingga malah menjadi sangat boros.
Kelima; Meski tidak sesempurna di Jakarta, namun fasilitas dipapua sudah cukup lengkap. Telah dibangun pusat-pusat perbelanjaan, seperti Ramayana dan Robinson (Mall Abepura), toko Matahari, Toko buku Gramedia, Hola Plaza, dll.
Keenam; Untuk menginap anda bisa menyesuaikan dengan uang saku yang anda punya, bagi yang berdompet tebal ada hotel berbintang, bagi yang mencari penginapan murah ada hotel-hotel melati. Dan kalau ingin menetap lama, bisa mencari rumah kontrakan atau kamar kost yang saat ini telah menjamur dimana-mana.
Ketujuh; Jangan merasa takut dengan warga lokal Papua, warna kulit boleh hitam tapi hati kita tetap sama, dimanapun kita berada akan ada orang yang baik dan orang yang jahat, meskipun warna kulit hitam tapi hati mereka sangat lembut. Karakter orang Indonesia dimanapun hampir sama, jika sang tamu bersikap dengan baik, sopan dan mau menghargai adat setempat maka anda akan disambut dengan baik, tapi jika anda melecehkan dan berbuat jahat di tanah Papua, maka anda akan menerima balasannya juga.
Kedelapan; Jangan takut dengan Malaria, karena pada dasarnya penyakit Malaria sama dengan penyakit sakit gigi atau sakit perut di wilayah lain. Asalkan anda makan, tidur dan olah raga dengan teratur maka dijamin anda tidak akan terkena malaria.
Kesembilan : Ketakutan tentang cerita koteka. Masih ada warga Papua yang menggunakan koteka, namun itu didaerah pedalaman yang sangat jauh dari kota. Program pemerintah telah banyak menyentuh warga desa tertinggal, sehingga mereka telah mengenakan pakaian modern. Anda tidak akan lagi menemukan orang dengan menggunakan koteka berlalu lalang di jalan-jalan, mereka hanya tinggal didalam hutan-hutan yang jauh dari kota, karena pemerintah sendiri telah melarang orang untuk menggunakan koteka di daerah perkotaan.
Kesepuluh : Telah banyak alat transportasi yang bisa digunakan disini, ada Ojek, Angkutan kota (mobil penumpang dikenal dengan nama “taxi”), warga disini lebih familiar dengan mobil rental karena tidak ada Taxi seperti di Jakarta atau di Makassar.
Demikian tulisan ini, semoga bisa bermanfaat buat teman-teman yang akan datang ke Papua. Onomi Fokha - Selamat Datang di Papua

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Keluarga Pedesaan dan Perkotaan

Perbedaan Masyarakat Desa dan Kota di Papua

Tugas Makalah : Pancasila Sebagai Kerangka Berpikir Budaya Bangsa